Kawah Ijen
Kawah ljen (+2386 mdpl) adalah fenomena. Kawah ljen dengan danau kawah sedalam 200 meter dengan luas mencapai 5.466 hektar merupakan danau kawah paling asam di dunia. Danau Kawah berada pada ketinggian (2200 mdpl) memiliki bentuk oval yang teratur (600 x 1000 m), luas permukaan 41 x 106 m² dan volumenya diperkirakan antara 32 dan 36 x 106 m³. Pembentukan Kawah ljen disebabkan oleh erupsi eksplosif yang terjadi kemudian membentuk kawah yang terisi oleh air hujan. Erupsi Kawah ljen diperkirakan terkosentrasi ke arah barat daya yang menyebabkan dinding kawah bagian barat daya memiliki elevasi yang lebih rendah dan membentuk bukaan.
Pada tahun 1921 dibangun bendungan oleh Belanda di bukaan tersebut untuk mengatur tingkat kelimpahan air dan mencegah terjadinya bencana selama musim hujan.
Indonesia yang mempunyai 129 gunung api aktif menjadikan wilayah ini sebagai penyumbang 13% gunung api aktif di dunia. Di Pulau Jawa sendiri terdapat 21 gunung api aktif dan 7 danau kawah (Simkin & Siebert, 1994). Kompleks G. ljen yang terdiri dari sekelompok gunung api strato yang terdapat di dalam dan di pinggir kaldera terletak di Jawa bagian paling timur. Tempat itu mempunyai iklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau setiap tahunnya. Curah hujan di kawasan gunung api berkaldera ini jauh lebih tinggi dibanding daerah pesisir. lntensitas hujan setiap harinya dapat mencapai 100 mm.
Kawah ljen merupakan salah satu gunung api cincin kaldera di Komplek Gunung Api ljen. Sekitar 300.000 tahun yang lalu, terdapat gunung api raksasa tunggal (ljen Purba) dengan perkiraan memiliki ketinggian 3500 m. Gunung yang menghasilkan lava dan piroklastik ini berada diatas endapan batu gamping berumur Miosen (12.5 juta tahun) dan Pliosen (5.3-2.6 juta tahun). Pembentukan kaldera diperkirakan terkait dengan letusan dengan volume besar yang menghasilkan (- 80 km³) endapan aliran endapan jatuhan, yang mencapai ketebalan 100-150 m. Sebaran yang paling luas berada di bagian utara lereng kompleks gunung api ini. Peristiwa ini diperkirakan terjadi beberapa waktu sebelum 50.000 tahun lalu, lni disimpulkan berdasarkan pada analisa umur dari K-Ar (50 ± 20 ka) dari aliran lava dari Gunung Blau yang dianggap menjadi unit pasca-kaldera tertua. Setelah pembentukan kaldera, fase vulkanisme berganti menjadi aktivitas post-kaldera. Kosentrasi utama vulkanisme post-kaldera berada di bagian selatan mengkuti pola kelurusan barat-timur.
Air Kawah ljen sangat asam karena reaksi-reaksi akibat interaksi air dengan batuan panas hasil bekuan magma serta uap-uap magma dalam suhu tinggi ini terjadi dan menyebabkan keasaman tinggi dari air danau. Air danau mengandung larutan kimia yang dihasilkan oleh gas-gas terlarut dalam magma, interaksi batuan dan cairan, penguapan air danau, pengenceran oleh air meteorik dan daur ulang air danau melalui rembesan ke dalam sistem hidrotermal bawah permukaan. Danau ini bertindak sebagai kimia kondensor untuk air yang mudah menguap dari sumber panas magmatik dangkal. Gas-gas yang terlarut dalam magma dapat disuplai oleh sistem danau kawah dengan injeksi langsung berupa semburan uap magmatik (SO2, H2S, HCI dan HF) melalui rekahan-rekahan yang berhubung dengan dasar fumarol atau melalui bagian dasar danau. Dengan demikian, interaksi air hujan, panas, kimiawi batuan , serta semprotan uap magma bercampur-baur dan kemudian dipanaskan menjadi air danau yang sangat asam.
Akumulasi air di dalam kawah membentuk danau berpanorama indah. Dengan volume airnya yang mencapai 40 x 106 m³, Danau ljen menjadi salah satu danau kawah terbesar di dunia. Akumulasi alami air gunung api ini sangat asam, atau pH <0,3 (Mastin & Witter, 2000). Pada 14 Juli 2008, seorang penjelajah bernama George Kourounis menyeberangi danau kawah dengan perahu karet kecil untuk mengukur derajat keasaman air. PH air di tepi danau terukur 0,5; sementara di bagian tengah danau bernilai 0,13. Keasaman air ini dipengaruhi oleh konsentrasi gas oksida belerang yang terlarut dalam air .
Fenomena lain yang teramati di Kawah ljen adalah blue fire yang terbentuk akibat reaksi sulfur dengan udara. Pada banyak gunung api di dunia, reaksi semacam ini akan menyebabkan api yang berwarna merah atau jingga, namun di ljen reaksi terjadi pada konsentrasi sulfur yang sangat besar dan pada temperatur lebih dari 360°C. Blue fire hanya dapat diamati pada malam hari karena apabila ada sinar matahari maka intensitas sinar tersebut akan mengakibatkan warna biru dari api tidak nampak dengan jelas terlihat.
Fenomena api biru ljen merupakan kenampakan yang terjadi di sekumpulan daerah hembusan solfatara yang terdapat di lereng Kawah ljen bagian selatan. Solfatara mengeluarkan gas-gas oksida belerang seperti S02 dan S03, selain karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Daerah hembusan solfatara mudah dikenali karena udara di sekitarnya berbau busuk, yaitu bau yang dihasilkan oleh gas oksida belerang. Dalam konsentrasi yang tinggi, gas ini berbahaya bagi manusia dan hewan. Nama solfatara berasal dari bahasa Latin “sulpha terra," yang artinya "daratan belerang" atau “bumi belerang." Nama itu diambil dari nama tempat "solfatara" di Gunung Pozzoli, ltalia. Api biru sebenarnya bukanlah api, seperti yang dikira oleh banyak orang. Api biru adalah fenomena keluarnya gas-gas oksida belerang yang muncul dari celah-celah batuan, yang kemudian bereaksi dengan oksigen bebas di udara pada suhu tertentu. Ketika proses alami itu terjadi akan tampak fenomena seperti api berwarna biru. Warna biru yang semakin terang menunjukkan tingginya suhu gas. Suhu gas yang ke luar dari dalam Bumi ini dapat mencapai 600°C. Lidah api dapat mencapai tinggi beberapa meter, tergantung kuat lemahnya tekanan gas yang keluar.




